Penelitian ini mengevaluasi krisis produktivitas di PT Dyandra Promosindo yang ditandai dengan 0% karyawan mencapai kinerja outstanding dan 6% karyawan masuk kategori need improvement pada 2024, sebuah kondisi yang dipicu oleh ketimpangan kompensasi peak season serta lemahnya eksekusi budaya tim. Melalui pendekatan kuantitatif PLS-SEM terhadap 100 responden (sensus), ditemukan bahwa variabel independen mampu menjelaskan 53,1% variasi kinerja ($R^2 = 0,531$) dan 76,2% variasi kepuasan kerja ($R^2 = 0,762$). Secara parsial, budaya kerja menjadi faktor determinan paling kuat terhadap kinerja ($\beta = 0,645; t = 3,847; p = 0,000$), namun secara kontras, kompensasi ($\beta = 0,144; p = 0,276$) dan kepuasan kerja ($\beta = -0,041; p = 0,812$) terbukti tidak berpengaruh signifikan secara langsung terhadap kinerja karyawan. Lebih lanjut, kepuasan kerja ditemukan gagal menjalankan peran mediasi baik pada pengaruh kompensasi terhadap kinerja ($\beta = -0,017; p = 0,812$) maupun budaya kerja terhadap kinerja ($\beta = -0,021; p = 0,823$). Sebagai implikasi manajerial, perusahaan disarankan memperkuat otonomi lapangan dan kolaborasi lintas fungsi sebagai pendorong utama kinerja, sementara perbaikan skema insentif tetap diperlukan untuk menjaga kepuasan kerja yang harus diiringi dengan sistem coaching ketat agar rasa puas tersebut bertransformasi secara terukur menjadi hasil kerja yang produktif.
Copyrights © 2026