Infeksi merupakan masalah kesehatan yang kerap terjadi di masyarakat, sehingga penggunaan antibiotik semakin meningkat. Sayangnya, masih banyak masyarakat yang menggunakan antibiotik secara tidak tepat, misalnya penggunaan tanpa resep dokter, tidak menghabiskan obat, atau menggunakan antibiotik untuk penyakit yang bukan disebabkan oleh bakteri. Kondisi tersebut dapat menimbulkan persoalan serius berupa resistensi antibiotik. Resistensi ini menyebabkan infeksi menjadi lebih sulit diobati dan meningkatkan risiko penyebaran penyakit yang lebih luas, dan salah satu faktor penyebabnya adalah minimnya pemahaman masyarakat mengenai antibiotik. Tingkat pengetahuan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk usia dan tingkat pendidikan. Penelitian ini bertujuan menilai keterkaitan mengetahui hubungan usia dan tingkat pendidikan terhadap pengetahuan penggunaan antibiotik di Desa Penanggulan, Kecamatan Pegandon, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi dasar dalam menyusun program edukasi kesehatan yang lebih tepat sasaran, guna mengurangi penyalahgunaan antibiotik dan mencegah resistensi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Jumlah responden sebanyak 97 orang yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling, dengan kriteria inklusi usia 18–50 tahun dan pernah mengonsumsi antibiotik. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi square Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara usia dengan tingkat pengetahuan penggunaan antibiotik (p = 0,779), namun terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan pengetahuan penggunaan antibiotik antibiotik (p = 0,000).
Copyrights © 2026