Tuna daksa merupakan salah satu bentuk hambatan fisik yang ditandai dengan kelainan, kerusakan, atau gangguan pada sistem gerak tubuh. Kondisi ini berdampak pada keterbatasan mobilitas, namun bukan berarti menjadi penghalang mutlak bagi perkembangan individu. Artikel ini membahas bagaimana keterbatasan fisik dapat diubah menjadi kekuatan melalui faktor internal (motivasi, penerimaan diri, ketangguhan) dan faktor eksternal (dukungan keluarga, pendidikan inklusif, serta kebijakan pemerintah). Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi pada anak tuna daksa di lingkungan pendidikan inklusif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial yang memadai mampu meningkatkan prestasi akademik, sosial, dan keterampilan penyandang tuna daksa. Dengan demikian, keterbatasan fisik bukanlah penghalang, melainkan pemicu lahirnya kekuatan baru
Copyrights © 2026