Kekerasan seksual pada penyandang disabilitas masih menjadi masalah serius yang terabaikan dalam kebijakan perlindungan sosial. Tingginya kerantanan kelompok ini disebakan oleh karena keterbatasan akses informasi, rendahnya ketrampilan protektif, serta minimnya dukungan komunitas yang mampu memberikan perlindungan komprehennsif. Kondisi tersebut menuntut adanya model intervensi yang tidak hanya berfokus pada individu, tetapi dapat melibatkan keluarga, satuan pendidikan dan lingkungan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas model psikoedukasi berbasis one health community sebagai strategi preventif terhadap kekerasan seksual pada penyandang disabilitas. Penelitian ini menggunakan desain kuasi-eksperimen dengan pretest–posttest control group design untuk mengevaluasi efektivitas psikoedukasi berbasis One Health Community terhadap sikap, pengetahuan, dan perilaku terkait kekerasan seksual. Sampel berjumlah 50 responden yang dibagi menjadi kelompok intervensi dan kontrol dengan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstandar. Analisis dilakukan dengan uji Wilcoxon Signed Rank Test dan Mann-Whitney U Test dengan tingkat signifikansi p < 0,05. Hasil penelitian menunjukan adanya perbedaan signifikan pada kelompok intervensi antara skor pre-test dan post test (P<0,05). Analisis antar kelompok juga memperlihatkan bahwa penerapan psikoedukasi berbasis One Health Community memiliki efektivitas yang lebih tinggi dibandingkan tidak adanya intervensi. Dukungan komunitas terbukti memperkuat hubungan antara psikoedukasi dan peningkatan kemampuan protektif penyandang disabilitas. Kesimpulan, penelitian ini menegaskan bahwa model one health community efektif, sebagai strategi preventif kekerasan seksual terhadap penyandang disabilitas, sekaligus relevan sebagai dasar pengembangkan kebijakan perlindungan yang inklusif dan berkelanjutan
Copyrights © 2026