Fenomena ketimpangan sosial, kemiskinan, dan kemunafikan moral yang masih marak dalam masyarakat modern mendorong lahirnya karya sastra yang berfungsi sebagai medium refleksi dan kritik sosial. Antologi Selamat Malam Kawan karya Muhaimin Nurrizqy merepresentasikan suara kaum pinggiran melalui bahasa yang lugas, sarkastik, dan penuh humor gelap. Namun, penelitian yang menelaah karya ini dari perspektif ekspresif masih terbatas, sehingga penting dilakukan kajian yang menyoroti hubungan antara ekspresi batin penyair dan realitas sosial yang melingkupinya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pembacaan mendalam dan analisis kontekstual terhadap empat puisi terpilih: Tak Ada Waktu, Liang Telinga, Sakit Perut, dan Ulang Tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Muhaimin Nurrizqy menyalurkan keresahan dan empatinya terhadap ketimpangan sosial melalui bahasa yang tegas, vulgar, namun humanistik. Kritik sosial yang dihadirkan tidak bersifat revolusioner, melainkan reflektif dan emosional, memperlihatkan bagaimana pengalaman batin penyair menjadi sarana kesadaran sosial. Penelitian ini menegaskan pentingnya pendekatan ekspresif dalam memahami puisi sebagai cerminan pergulatan psikologis dan realitas sosial penyair.
Copyrights © 2025