Perkembangan globalisasi dan digitalisasi telah membawa perubahan signifikan dalam dinamika keberagamaan masyarakat kontemporer. Arus informasi yang cepat dan interaksi lintas budaya menciptakan ruang baru bagi ekspresi identitas keagamaan, sekaligus memunculkan kerentanan terhadap radikalisme sebagai respons atas krisis identitas. Dalam konteks ini, moderasi beragama dan multikulturalisme menjadi strategi penting untuk menjaga keseimbangan pemahaman keagamaan di tengah masyarakat plural. Penelitian ini bertujuan menganalisis keterkaitan antara radikalisme, moderasi, dan multikulturalisme dalam perspektif sosiologi Barat dan Islam serta implikasinya terhadap pengembangan Pendidikan Agama Islam (PAI). Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif melalui studi kepustakaan, dengan analisis konten terhadap literatur akademik yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa radikalisme tidak hanya merupakan persoalan ideologis, tetapi juga fenomena sosial yang dipengaruhi krisis identitas dan disrupsi digital. Moderasi beragama, melalui konsep wasathiyah, berfungsi sebagai prinsip keseimbangan dalam beragama, sedangkan multikulturalisme menekankan pengakuan identitas dan penghargaan terhadap keberagaman sebagai ketetapan Ilahi. Integrasi perspektif sosiologi Barat yang menyoroti aspek struktural dengan sosiologi Islam yang menekankan dimensi normatif teologis menghasilkan pemahaman komprehensif. Pembahasan menegaskan bahwa PAI perlu dikembangkan secara reflektif dan kontekstual berbasis literasi digital, sehingga mampu membentuk peserta didik yang kritis, moderat, dan toleran dalam menghadapi tantangan keberagamaan di era postmodern.
Copyrights © 2026