Pembelajaran bahasa Inggris pada anak usia dini semakin mendapat perhatian seiring dengan rencana penerapan bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib di sekolah dasar mulai tahun ajaran 2027/2028. Di Indonesia, khususnya di Kota Semarang, pembelajaran bahasa Inggris di lembaga PAUD umumnya dilaksanakan oleh guru non-native speaker. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi secara mendalam persepsi dan praktik guru non-native speaker dalam pembelajaran bahasa Inggris untuk anak usia dini di Kota Semarang, termasuk tantangan yang dihadapi serta strategi yang dikembangkan untuk mengatasinya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi kelas, dan analisis dokumen pembelajaran terhadap 11 guru PAUD dari berbagai latar belakang pendidikan dan lembaga., Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar guru non-native speaker masih mengalami keraguan terhadap kemampuan linguistik mereka, terutama dalam aspek pelafalan dan kefasihan berbicara. Namun demikian, mereka memandang diri memiliki kelebihan dalam memahami kesulitan belajar anak dan mampu menerapkan strategi pembelajaran yang kontekstual. Praktik pembelajaran yang dilakukan meliputi penggunaan metode Total Physical Response (TPR), lagu, permainan, storytelling, serta pemanfaatan media visual dan teknologi sederhana. Guru juga menerapkan strategi alih kode (code-switching) untuk membantu pemahaman anak. Tantangan yang dihadapi mencakup keterbatasan kompetensi bahasa, kendala pedagogis, serta dukungan institusional yang belum optimal. Untuk mengatasi hal tersebut, guru melakukan pengembangan diri secara mandiri dan kolaboratif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa guru non-native speaker memiliki peran strategis dalam pembelajaran bahasa Inggris anak usia dini, namun memerlukan dukungan pengembangan profesional yang berkelanjutan dan kontekstual.
Copyrights © 2026