Pendidikan karakter merupakan komponen penting dalam sistem pendidikan nasional Indonesia, dengan kejujuran sebagai salah satu nilai utama yang perlu ditanamkan sejak dini. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa perilaku tidak jujur masih sering terjadi di kalangan siswa. Oleh karena itu, pendekatan yang relevan dan kontekstual dibutuhkan, salah satunya melalui pemanfaatan kearifan lokal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi pendidikan karakter jujur melalui Watak Bawor Banyumasan di SD Negeri 2 Tanjung, serta mengidentifikasi kendala dan solusi dalam penerapannya. Subjek penelitian terdiri dari kepala sekolah, dua guru kelas rendah, 2 guru kelas tinggi, serta enam siswa yang dipilih secara purposive sampling berdasarkan tingkat kejujuran dan keaktifan. Watak Bawor yang dikenal sebagai tokoh pewayangan khas Banyumas mencerminkan karakter Blakasuta (terus terang) dan jujur, sehingga dinilai relevan untuk dijadikan simbol penanaman nilai kejujuran kepada siswa. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif deskriptif melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi selama satu semester, kemudian dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data,dan verifikasi menggunakan Teknik triangulasi untuk menjamin keabsahan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekolah telah mengintegrasikan nilai kejujuran dalam berbagai kegiatan melalui SK Kepala Sekolah dan program pembiasaan harian. Meskipun demikian, implementasi di lapangan masih menghadapi tantangan seperti kurangnya konsistensi siswa dan pengawasan guru yang belum maksimal. Untuk mengatasi hal ini, pihak sekolah melakukan evaluasi rutin, pelatihan guru, serta kolaborasi dengan orang tua dan komunitas lokal. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan model pendidikan karakter berbasis kearifan lokal dan dapat menjadi acuan bagi sekolah lain dalam menanamkan nilai-nilai karakter melalui pendekatan budaya yang kontekstual. Dengan demikian, pendidikan karakter melalui Watak Bawor Banyumasan diharapkan mampu mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga bermoral dan bertanggung jawab. Temuan penelitian menunjukkan bahwa melalui pembiasaan, keteladanan, dan pengkondisian lingkungan sekolah, siswa mulai terbiasa bersikap jujur, mengakui kesalahan, menolak mencontek dan menggunakan kantin serta kotak kejujuran secara mandiri. Saran tindak lanjut mencakup penguatan integrasi tokoh lokal dalam pembelajaran, keterlibatan aktif orang tua, serta penyusunan evaluasi karakter yang terstruktur.
Copyrights © 2025