Penelitian ini mengeksplorasi fenomena "toleransi kebablasan" di kalangan Generasi Z yang memicu ambiguitas normatif antara ranah Muamalah dan Ibadah, serta mengidentifikasi intervensi diskursif Habib Ja’far Al-Hadar dalam penguatan variabel pendidikan karakter religius. Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan strategi komunikasi gaya bahasa rumor Habib Ja’far serta mengkaji nilai-nilai toleransi dalam konten kolaborasi dan meninjau dinamika keagamaan Gen Z dalam platform digital secara luas. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif multi-metode, mengintegrasikan fenomenologi terhadap 10 informan Gen Z dan Analisis Wacana Kritis (CDA) terhadap 15 konten digital Habib Ja’far. Temuan besar menunjukkan adanya kekosongan otoritas interpretatif yang memicu "sinkretisme linguistik" sebagai bentuk normalisasi sosial di kalangan Gen Z. Sebagai temuan penjelas, aspek pendidikan karakter seperti Kemandirian Berpikir dan Tanggung Jawab Moral ditemukan melemah akibat arus tren media sosial. Intervensi Habib Ja’far melalui strategi proporsionalitas berhasil menanamkan kembali variabel Kejujuran Intelektual dalam beragama. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penguatan karakter religius berbasis Tauhid merupakan prasyarat toleransi sejati. Temuan ini memberikan kontribusi teoritik berupa Model Batasan Toleransi Kontekstual untuk meredefinisi kurikulum pendidikan karakter yang adaptif di era digital.
Copyrights © 2026