Pelaksanaan pendidikan inklusif di sekolah dasar masih menghadapi kendala, terutama dalam penerapan pembelajaran yang belum sepenuhnya mengakomodasi keberagaman kebutuhan siswa. Kepala sekolah memiliki peran sentral melalui kepemimpinan instruksional untuk mendorong guru menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kepemimpinan instruksional terhadap pelaksanaan pendidikan inklusif dan menguji peran mediasi pembelajaran berdiferensiasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis VB-SEM (Variance-Based Structural Equation Modeling). Sampel penelitian terdiri dari guru dan tenaga pendidik di SDIT Persis Tarogong. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner dengan indikator kepemimpinan instruksional, pembelajaran berdiferensiasi, dan pelaksanaan pendidikan inklusif. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kepemimpinan instruksional tidak berpengaruh langsung secara signifikan terhadap pelaksanaan pendidikan inklusif. Namun, kepemimpinan instruksional terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap pembelajaran berdiferensiasi, sementara pembelajaran berdiferensiasi juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap pelaksanaan pendidikan inklusif. Analisis mediasi mengonfirmasi bahwa pembelajaran berdiferensiasi mampu memediasi penuh pengaruh kepemimpinan instruksional terhadap pelaksanaan pendidikan inklusif. Temuan ini menegaskan bahwa penguatan praktik diferensiasi oleh guru menjadi kunci utama dalam menghubungkan peran kepemimpinan instruksional dengan keberhasilan pendidikan inklusif. Temuan ini mengindikasikan bahwa pembelajaran berdiferensiasi bertindak sebagai mediator penuh (full mediator), yang menyoroti peran pentingnya dalam menerjemahkan kepemimpinan instruksional menjadi praktik pendidikan inklusif yang efektif.
Copyrights © 2026