Akar wangi (Vetiveria zizanioides) merupakan salah satu komoditas ekspor unggulan Indonesia. Indonesia menempati posisi sebagai produsen terbesar kedua setelah Haiti dalam ekspor minyak akar wangi (vetiver oil) di dunia, bahkan pada tahun 2010 sempat menjadi pengekspor utama akibat bencana di Haiti. Di sisi lain, pasar produk pertanian dari hari ke hari semakin mengglobal dan menyaratkan perhatian lebih dari produsen. Seiring meningkatnya perdagangan global, standar mutu produk pertanian menjadi aspek krusial untuk mengakses pasar ekspor. Keingintahuan konsumen di negara pengimpor mengenai standar produksi di negara produsen serta keterlacakan (traceability) dalam rantai pasokan menjadi semakin relevan dalam perdagangan internasional. Petani, pengolah, dan eksportir harus familier dengan standar-standar tersebut serta mampu menerapkannya dalam budidaya dan pengolahan jika ingin tetap bersaing di pasar dunia. Oleh karena itu, diperlukan langkah konkret bagi pelaku industri minyak akar wangi untuk bertahan di pasar global, salah satunya melalui produksi minyak akar wangi organik (organic vetiver oil) yang bersertifikat internasional. Penelitian ini menggunakan lahan seluas 1 hektar sebagai plot demonstrasi (demonstration plot/demplot) budidaya akar wangi organik yang ditanam secara tumpang sari dengan tanaman kentang. Pembudidayaan dilakukan dengan sistem pertanian organik terpadu dan terintegrasi, mulai dari penanaman, pemupukan, penyiangan, pengendalian hama dan penyakit, hingga proses pemanenan dan pengolahan produk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas minyak akar wangi organik telah memenuhi persyaratan yang ditetapkan. Parameter keunggulan meliputi nilai rendemen yang mencapai > 50% (berbanding < 50% pada non-organik), penampakan fisik akar yang lebih bersih dan lebat, serta hasil uji SNI dan residu pestisida yang memenuhi standar keamanan pangan.
Copyrights © 2013