Gizi kurang pada balita masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang berdampak pada tumbuh kembang anak serta kualitas sumber daya manusia di masa depan. Deteksi dini melalui pemantauan pertumbuhan menjadi strategi penting untuk mencegah dan menanggulangi masalah tersebut. Namun, keterampilan kader Posyandu dalam pengukuran antropometri dan plotting ke Kartu Menuju Sehat (KMS) masih terbatas, sehingga menghambat akurasi identifikasi kasus gizi kurang. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan mengoptimalkan peran kader Posyandu melalui pelatihan berbasis teori, praktik, dan simulasi. Sebanyak 30 kader mengikuti pelatihan yang mencakup materi tentang gizi balita, stunting, teknik pengukuran antropometri sesuai standar WHO, plotting grafik KMS, serta interpretasi hasil. Evaluasi dilakukan dengan pre-test dan post-test. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pada pengetahuan dan keterampilan kader, dengan rata-rata nilai pre-test 58,6 meningkat menjadi 84,0 pada post-test (peningkatan 43,4%). Penerapan metode andragogi dan experiential learning terbukti efektif dalam memperkuat kompetensi kader. Dengan peningkatan kapasitas ini, kader mampu melakukan deteksi dini gizi kurang secara lebih tepat, mempercepat intervensi, serta mendukung percepatan penurunan stunting dalam upaya mewujudkan generasi emas Indonesia.
Copyrights © 2025