Penelitian ini bertujuan menganalisis respons Pendidikan Agama Islam (PAI) terhadap tantangan era post-truth melalui pendekatan humanistik dan literasi kritis di MA Salafiyah Yapensa Pekalongan. Era post-truth ditandai oleh dominasi emosi, afiliasi identitas, dan viralitas media dibandingkan dengan fakta objektif dalam membentuk opini publik (McIntyre, 2018). Dalam konteks pendidikan agama, kondisi tersebut memunculkan persoalan epistemologis baru karena peserta didik hidup di tengah arus informasi digital yang dipenuhi misinformasi, disinformasi, dan manipulasi simbol keagamaan (Wardle & Derakhshan, 2017). Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi lapangan. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi pembelajaran, focus group discussion, dan analisis dokumen kurikulum. Analisis data menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldaña melalui tahap kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Miles et al., 2014). Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru-guru PAI mulai menyadari perubahan pola konsumsi informasi peserta didik akibat pengaruh media digital. Tradisi epistemik Islam seperti tabayyun, isnad, jarh wa ta’dil, dan qiyas memiliki relevansi kuat sebagai fondasi literasi kritis di era digital. Pendekatan humanistik dalam pembelajaran memberikan ruang lebih terbuka bagi peserta didik untuk berdialog, berpikir reflektif, dan mengembangkan kesadaran epistemik. Namun, implementasi pembelajaran kritis masih menghadapi hambatan berupa dominasi kultur hafalan, keterbatasan literasi media, dan sistem evaluasi yang berorientasi pada kognitif formal. Penelitian ini menawarkan kerangka “Humanisme Islam Literat” sebagai model pedagogis yang mengintegrasikan epistemologi Islam dengan literasi media kritis dalam pembelajaran PAI di era post-truth.
Copyrights © 2026