Proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) merepresentasikan tonggak penting pembangunan infrastruktur transportasi modern di Indonesia. Proyek ini menghadapi tantangan utama pada pembiayaan, kebijakan, dan keberlanjutan operasional. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi literatur, analisis dokumen, dan wawancara untuk menganalisis hubungan antara pembiayaan, konsesi, efisiensi biaya, dan keberhasilan proyek. Hasil analisis menunjukkan terdapat 42 kode tematik, dengan pembiayaan sebagai faktor dominan sebesar 43% (18 kode), diikuti kebijakan 26% (11 kode) dan konsesi 19% (8 kode), sehingga faktor non-teknis mencapai 88%. Sebanyak 80% informan menyatakan bahwa keterlambatan arus kas menjadi penyebab utama inefisiensi, yang memicu idle cost dan keterlambatan konstruksi. Proyek juga mengalami cost overrun sekitar 20% yang menurunkan kelayakan investasi. Dari sisi kebijakan, tidak adanya lembaga permanen menyebabkan koordinasi tidak optimal. Dari sisi konsesi, kontrak 50 tahun tidak cukup adaptif terhadap perubahan biaya. Penelitian ini menegaskan bahwa integrasi pembiayaan, kebijakan, dan konsesi menjadi kunci keberhasilan proyek, sehingga diperlukan reformasi pembiayaan, penguatan kelembagaan, dan konsesi yang lebih fleksibel
Copyrights © 2026