Perkebunan kelapa sawit rakyat memiliki produktivitas yang secara konsisten lebih rendah dibandingkan perkebunan perusahaan besar dalam sistem inti-plasma, yakni hanya sekitar 2,5 ton CPO/ha/tahun berbanding 4,0 ton/ha/tahun milik perkebunan negara, kesenjangan sebesar 37,5 persen. Artikel ini mengkaji faktor-faktor penyebab kesenjangan tersebut menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif berbasis data sekunder BPS periode 2019-2025, diperkuat kerangka teori Rational Peasant. Hasil kajian menunjukkan bahwa kesenjangan produktivitas bersifat struktural dan multidimensi: keterbatasan modal mendorong petani menggunakan bibit asalan sebagai strategi rasional menghadapi risiko, sementara lemahnya kelembagaan petani menghambat akses terhadap Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) dan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Implikasi kebijakan mencakup penguatan kelembagaan melalui koperasi dan kelompok tani, penyederhanaan akses PSR, percepatan legalitas lahan, dan optimalisasi pembiayaan mikro agribisnis.
Copyrights © 2026