Selama ini, pengelolaan cagar budaya di Soasio, Kota Tidore Kepulauan, lebih cenderung berorientasi pada pekerjaan fisik seperti ekskavasi, konservasi, pemugaran, serta penataan lingkungan. Upaya tersebut patut diapresiasi karena berhasil menjaga objek cagar budaya dari kerusakan sehingga masih dapat bertahan hingga saat ini. Namun, cara seperti itu dianggap belum mampu menyentuh akar permasalahan dan mengabaikan aspirasi masyarakat setempat. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi beragam masalah dalam pengelolaan cagar budaya di Soasio sekaligus merumuskan bentuk pengelolaan yang lebih inklusif, partisipatif, dan kolaboratif. Melalui pendekatan riset partisipasi aksi yang meliputi observasi, wawancara mendalam dengan para partisipan, penggunaan teknik elisitasi foto, dan kelompok diskusi terpumpun, faktor-faktor berupa perbedaan persepsi mengenai makna dan fungsi cagar budaya, eksklusivitas narasi sejarah, belum terintegrasinya warisan budaya tak benda (WBTB) dalam skema pengelolaan, dan minimnya ruang dialog antara pengambil kebijakan dengan masyarakat berhasil diungkap. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini kemudian merekomendasikan pembentukan forum tata kelola yang kolaboratif, pembaruan narasi sejarah, dan penguatan kapasitas masyarakat lokal sebagai langkah pengelolaan yang lebih berkelanjutan.
Copyrights © 2026