Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena marginalisasi museum dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), di mana Museum Kota Makassar sering kali hanya dipandang sebagai objek wisata statis daripada laboratorium sosial yang dinamis. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kesiapsiagaan pedagogis guru IPS dalam mereposisi museum sebagai sumber belajar aktif guna menumbuhkan kesadaran sejarah dan Eco-Spatial Empathy siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam terhadap 10 guru IPS di Kota Makassar, observasi, dan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan secara tematik menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesiapsiagaan pedagogis guru masih berada pada tahap transisi antara paradigma tradisional dan progresif. Terdapat kesenjangan antara kesadaran konseptual guru mengenai pentingnya museum dengan kemampuan implementatif dalam mendesain perencanaan pembelajaran yang terstruktur. Meskipun interaksi dengan artefak museum terbukti mampu meningkatkan kemampuan berpikir kausalitas siswa, hambatan struktural seperti birokrasi perizinan, keterbatasan waktu, dan minimnya modul integratif masih menjadi kendala utama. Penelitian ini merekomendasikan perlunya penguatan literasi kurasi bagi guru dan kolaborasi sistemik antara institusi pendidikan dengan pengelola museum untuk mentransformasi museum kota menjadi Contextual Social Laboratory yang inklusif.
Copyrights © 2026