Integrasi Artificial Intelligence (AI) dalam pendidikan dasar Islam menghadapi tantangan ganda: dominasi tren teknosentris yang mereduksi peran guru menjadi operator alat, serta ancaman erosi otoritas moral akibat kemudahan akses informasi tanpa sanad. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis literatur kritis terhadap kesiapan diskursus pendidikan guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) dalam merespons disrupsi tersebut, sekaligus menawarkan kerangka konseptual baru berbasis nilai. Menggunakan metode studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan analisis isi terhadap literatur global dan nasional periode 2020–2026, penelitian ini membedah stagnasi epistemologis dalam riset terdahulu. Temuan penelitian menunjukkan tiga hal fundamental: (1) 97% literatur pendidikan guru masih terjebak pada paradigma instrumental (adaptasi alat) dan mengabaikan dampak ontologis; (2) Terjadi fenomena "bypass epistemologis" di mana AI mengambil alih peran transfer pengetahuan, menciptakan kekosongan nilai (value vacuum) dalam relasi guru-siswa; dan (3) Solusi atas krisis ini adalah reorientasi kompetensi guru dari sekadar fasilitator teknis menjadi "Kurator Nilai" melalui penguasaan "Tabayyun Algoritmik". Penelitian ini menyimpulkan bahwa kurikulum PGMI mendesak untuk direkonstruksi, bukan dengan menambah beban teknis, melainkan melalui infusi literasi kritis-etis (Adab Digital) guna mempertahankan marwah guru sebagai Murobbi di era algoritma.
Copyrights © 2026