Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa perbedaan keterampilan berpikir kritis antara siswa yang belajar dengan model inkuiri terbimbing dengan bantuan PhET dan siswa yang belajar dengan model konvensional. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen semu dengan desain one way pretest-posttest non-equivalent control group design. Target populasi terdiri dari 356 siswa kelas X di SMA Negeri 4 Singaraja. Sampel diambil dengan menggunakan teknik pengambilan acak sederhana yang menghasilkan 70 siswa dan dibagi menjadi dua kelompok. Analisis kemampuan berpikir kritis siswa dilaksanakan menggunakan metode deskriptif dan statistik. Uji hipotesis dilaksanakan pada tingkat signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kemampuan berpikir kritis siswa pada kelompok yang menerapkan model inkuiri terbimbing dengan bantuan PhET berada di kategori tinggi (M = 82,6; SD = 5,27), sedangkan kelompok yang belajar dengan model konvensional berada di kategori cukup (M = 57,6; SD = 6,74). Hasil pengujian hipotesis menggunakan ANAKOVA memperlihatkan nilai sebesar 314,092 dengan tingkat . Penelitian menunjukkan variasi keterampilan berpikir kritis antara siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan PhET dan siswa yang diajarkan dengan model konvensional. Sehingga, model pembelajaran inkuiri terstruktur dengan bantuan PhET memiliki dampak yang signifikan pada kemampuan berpikir kritis siswa dalam mata pelajaran fisika.
Copyrights © 2026