Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

KAJIAN LITERATUR SISTEMATIS: KONSEPTUALISASI DAN PENGUKURAN HIGHER-ORDER THINKING SKILLS DALAM PEMBELAJARAN FISIKA I Nengah Edi Budiarta
Jurnal Pendidikan Fisika Undiksha Vol. 13 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpf.v13i2.63397

Abstract

Keterampilan berpikir tingkat tinggi atau Higher-order Thinking Skills (HOTS) menjadi keterampilan esensial dalam menyiapkan masyarakat yang terdidik secara teknologi dan etiket, secara berlanjut dapat mengambil keputusan yang tepat dan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemajuan dalam bidang-bidang kehidupan. Pemahaman terhadap konseptualisasi serta karakteristik evaluasi maupun pengukuran kemampuan berpikir tingkat tinggi penting dalam mengembangkan HOTS. Penelitian ini mengkaji konseptualisasi serta pengukuran HOTS dengan metode Systematic Literature Review (SLR) dari 23 literatur yang relevan. Penelitian ini mengungkap bahwa konseptualisasi HOTS dalam pembelajaran fisika mengacu pada taksonomi Bloom Revisi, keterampilan berpikir kritis, keterampilan berpikir kreatif, keterampilan pemecahan masalah yang secara aspek dan dimensi menjadi representasi HOTS. Pengukuran HOTS yang dilakukan dalam pembelajaran fisika menggunakan instrumen tes pilihan ganda diperluas atau tes uraian yang bersesuaian dengan aspek serta dimensi HOTS yang dapat mencangkup materi yang beragam, dapat diintegrasikan dengan platform dan teknologi yang relevan, serta parameter kelayakan instrumen yang cukup bervariasi.
Efektivitas Model Inkuiri Terbimbing Berbantuan PhET Terhadap Keterampilan Berpikir Kritis Siswa SMA pada Pembelajaran Fisika: Penelitian Tessalonika Lumbanbatu; Rai Sujanem; I Nengah Edi Budiarta
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 4 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 4 April - Juni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i4.6507

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa perbedaan keterampilan berpikir kritis antara siswa yang belajar dengan model inkuiri terbimbing dengan bantuan PhET dan siswa yang belajar dengan model konvensional. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen semu dengan desain one way pretest-posttest non-equivalent control group design. Target populasi terdiri dari 356 siswa kelas X di SMA Negeri 4 Singaraja. Sampel diambil dengan menggunakan teknik pengambilan acak sederhana yang menghasilkan 70 siswa dan dibagi menjadi dua kelompok. Analisis kemampuan berpikir kritis siswa dilaksanakan menggunakan metode deskriptif dan statistik. Uji hipotesis dilaksanakan pada tingkat signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kemampuan berpikir kritis siswa pada kelompok yang menerapkan model inkuiri terbimbing dengan bantuan PhET berada di kategori tinggi (M = 82,6; SD = 5,27), sedangkan kelompok yang belajar dengan model konvensional berada di kategori cukup (M = 57,6; SD = 6,74). Hasil pengujian hipotesis menggunakan ANAKOVA memperlihatkan nilai sebesar 314,092 dengan tingkat . Penelitian menunjukkan variasi keterampilan berpikir kritis antara siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan PhET dan siswa yang diajarkan dengan model konvensional. Sehingga, model pembelajaran inkuiri terstruktur dengan bantuan PhET memiliki dampak yang signifikan pada kemampuan berpikir kritis siswa dalam mata pelajaran fisika.
The Effect of the Guided Inquiry Learning Model with Laboratory Experiments on Students’ Higher-Order Thinking Skills Made Devayana Krisna Pendit; I Wayan Santyasa; I Nengah Edi Budiarta
Jurnal Pendidikan Fisika dan Teknologi (JPFT) Vol 12 No 1 (2026): January-June
Publisher : Department of Physics Education, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jpft.v12i1.12118

Abstract

This study aimed to examine the differences in the effects of guided inquiry learning using laboratory experiments, guided inquiry learning using virtual experiments, and conventional learning on students’ higher-order thinking skills (HOTS). A quasi-experimental method with a one-way non-equivalent pretest–posttest control group design was employed. The study population consisted of five Grade 11 science classes at SMA Negeri 2 Singaraja. A sample of three classes comprising 120 students was selected using cluster random sampling. Students’ HOTS were measured using a 10-item essay test. The instrument demonstrated acceptable item validity, with item-total correlation coefficients ranging from 0.31 to 0.62, and high reliability (Cronbach’s α = 0.845). Students’ initial HOTS scores were treated as the covariate. Data were analyzed using one-way analysis of covariance (ANCOVA), followed by the Least Significant Difference (LSD) post hoc test. Statistical significance was determined at the 5% level. The results showed significant differences among the three instructional approaches in terms of students’ HOTS (F = 68.173, p < 0.05). The LSD test indicated that guided inquiry learning using laboratory experiments produced significantly higher HOTS than guided inquiry learning using virtual experiments and conventional learning. These findings suggest that integrating laboratory experiments into guided inquiry learning is more effective in enhancing students’ higher-order thinking skills in physics than virtual experiments or conventional instruction.
Rancang Bangun Sistem Deteksi kemampuan awal menulis saintifik anak berbasis LLM Trifalah Nurhuda; I Nengah Edi Budiarta; I Nyoman Indhi Wiradika; I Gede Bendesa Subawa; I Ketut Andika Pradnyana
KARMAPATI (Kumpulan Artikel Mahasiswa Pendidikan Teknik Informatika) Vol. 14 No. 3 (2025)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/karmapati.v14i3.104932

Abstract

Kemampuan menulis saintifik merupakan fondasi literasi sains, namun penguasaannya menjadi tantangan besar bagi siswa, sementara proses asesmennya seringkali tidak efektif. Asesmen manual oleh guru cenderung subjektif, memakan waktu, dan inkonsisten. Di sisi lain, sistem Automated Essay Scoring (AES) yang ada seringkali hanya mampu menganalisis fitur linguistik permukaan seperti tata bahasa, tanpa mampu mengevaluasi kedalaman penalaran ilmiah dalam sebuah argumen. Menjawab tantangan ini, penelitian ini berfokus pada pengembangan dan evaluasi sistem asesmen otomatis berbasis Large Language Models (LLM) untuk memberikan umpan balik yang substantif, konsisten, dan dapat diskalakan. Menggunakan metodologi Research and Development (R&D) dengan pendekatan iteratif, sebuah prototipe aplikasi web fungsional bernama SCI-ASSIST Lite berhasil dibangun. Sistem ini terintegrasi dengan Google Gemini API, memungkinkan pendidik untuk merancang sesi asesmen dengan rubrik yang dapat disesuaikan dan secara otomatis menghasilkan laporan diagnostik terstruktur bagi siswa. Hasil pengujian fungsional menunjukkan tingkat keberhasilan 100% pada semua skenario penggunaan inti. Meskipun demikian, hasil evaluasi menunjukkani bottleneck signifikan pada latensi respons API (10-30 detik), yang mengonfirmasi kesesuaian sistem untuk asesmen formatif asinkron. Selain itu, analisis arsitektural mengungkap kerentanan keamanan dan skalabilitas yang fundamental akibat pilihan desain awal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi LLM secara teknis layak dan bermakna secara pedagogis, namun implementasi skala produksi memerlukan arsitektur yang matang untuk menjamin keamanan, keandalan, dan skalabilitas.
Model Problem Based Learning (PBL) dalam Pembelajaran Fisika SMA: Tinjauan Naratif terhadap Dampaknya pada Hasil Belajar dan Berpikir Kritis Siswa Putu Vina Febryanti; Ida Bagus Putu Mardana; I Nengah Edi Budiarta
Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (JKIP) Vol. 7 No. 6 (2026): Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (JKIP)
Publisher : Lembaga Riset dan Inovasi Almatani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55583/ar17ea85

Abstract

Pembelajaran fisika di Sekolah Menengah Atas (SMA) tidak hanya bertujuan membangun penguasaan konsep, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah siswa. Rendahnya capaian literasi sains dan hasil belajar fisika mendorong perlunya penerapan model pembelajaran yang berpusat pada siswa, salah satunya Problem Based Learning (PBL). Penelitian ini bertujuan menyajikan tinjauan naratif mengenai penerapan PBL pada pembelajaran fisika SMA dengan menyintesis berbagai temuan penelitian terkait pengaruhnya terhadap hasil belajar dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. Kajian disusun melalui penelaahan berbagai artikel ilmiah yang dipublikasikan pada periode 2021–2026 dan diperoleh dari Google Scholar, Garuda, serta Directory of Open Access Journals (DOAJ). Hasil sintesis menunjukkan bahwa PBL secara konsisten memberikan dampak positif terhadap hasil belajar kognitif, kemampuan berpikir kritis, berpikir kreatif, dan kemampuan pemecahan masalah pada berbagai materi fisika. Selain itu, efektivitas PBL dipengaruhi oleh karakteristik materi pembelajaran, pemanfaatan media pendukung, serta kualitas implementasi model di kelas. Secara keseluruhan, PBL merupakan pendekatan pembelajaran yang efektif dalam mendukung pembelajaran fisika di SMA karena mampu mendorong keterlibatan aktif siswa dalam membangun pengetahuan melalui penyelesaian masalah yang kontekstual. Oleh karena itu, penguatan kompetensi guru dalam merancang dan mengimplementasikan pembelajaran berbasis masalah perlu terus dilakukan agar manfaat PBL dapat dioptimalkan.
SINTESIS DAN KARAKTERISASI MAGNETIT (Fe3O4) DARI PASIR BESI MELALUI METODE KOPRESIPITASI: SEBUAH TINJAUAN LITERATUR Putu Vina Febryanti; Ida Bagus Putu Mardana; I Nengah Edi Budiarta
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v6i3.14844

Abstract

Magnetite (Fe₃O₄) is one of the most promising magnetic materials due to its broad applications in electronics, environmental remediation, and biomedical fields. Indonesia possesses abundant iron sand resources, providing significant potential for producing value-added magnetite through the co-precipitation method, which is recognized for its simplicity, cost-effectiveness, and high synthesis efficiency. This study aims to comprehensively review previous research on the synthesis and characterization of magnetite (Fe₃O₄) derived from iron sand using the co-precipitation method and to analyze the influence of synthesis parameters on the resulting material characteristics. A Systematic Literature Review (SLR) employing the PRISMA framework was conducted through the stages of identification, screening, eligibility assessment, and inclusion of relevant scientific publications. The collected data were analyzed qualitatively using data reduction, comparison, synthesis, and interpretation techniques. The review indicates that the co-precipitation method successfully produces magnetite with an inverse spinel cubic crystal structure, nanometer-scale crystallite size, predominantly spherical particle morphology with agglomeration tendencies, and elemental compositions dominated by iron (Fe) and oxygen (O). Furthermore, variations in synthesis pH significantly influence crystallite size, particle morphology, and magnetic properties. Characterization using XRD, SEM–EDS, XRF, and VSM consistently demonstrates that the synthesized magnetite exhibits soft magnetic to superparamagnetic behavior. Overall, this review concludes that the co-precipitation method is an effective approach for producing high-quality magnetite from iron sand and offers considerable potential for applications in electronics, sensors, environmental remediation, and biomedical technologies. ABSTRAK Magnetit (Fe₃O₄) merupakan salah satu material magnetik yang memiliki potensi luas dalam berbagai bidang, seperti elektronik, lingkungan, dan biomedis. Ketersediaan sumber daya pasir besi yang melimpah di Indonesia menjadikan material ini berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku sintesis magnetit bernilai tambah melalui metode kopresipitasi yang dikenal sederhana, ekonomis, dan efektif. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji secara komprehensif hasil-hasil penelitian mengenai sintesis dan karakterisasi magnetit (Fe₃O₄) dari pasir besi melalui metode kopresipitasi, serta menganalisis pengaruh parameter sintesis terhadap karakteristik material yang dihasilkan. Penelitian ini menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan pendekatan PRISMA melalui tahapan identifikasi, penyaringan, penilaian kelayakan, dan inklusi artikel ilmiah yang relevan. Data dianalisis secara deskriptif-kualitatif melalui proses reduksi, sintesis, perbandingan, dan interpretasi hasil penelitian. Hasil kajian menunjukkan bahwa metode kopresipitasi mampu menghasilkan magnetit berstruktur kristal kubik (inverse spinel) dengan ukuran kristal pada skala nanometer, morfologi partikel yang umumnya berbentuk sferis dengan kecenderungan aglomerasi, serta komposisi unsur yang didominasi oleh besi (Fe) dan oksigen (O). Variasi pH sintesis berpengaruh terhadap ukuran kristal, morfologi, dan sifat kemagnetan material, sedangkan karakterisasi menggunakan XRD, SEM–EDS, XRF, dan VSM menunjukkan bahwa magnetit hasil sintesis memiliki karakteristik soft magnetic hingga superparamagnetik. Kajian ini menyimpulkan bahwa metode kopresipitasi merupakan pendekatan yang efektif untuk menghasilkan magnetit berkualitas dari pasir besi serta memiliki prospek yang menjanjikan untuk pengembangan aplikasi pada bidang elektronik, sensor, pengolahan lingkungan, dan biomedis.