Penelitian ini menganalisis representasi budaya lokal dalam teks promosi wisata kuliner berbahasa Indonesia menggunakan pendekatan Critical Discourse Analysis (CDA) tiga dimensi Fairclough yang dipadukan dengan analisis semiotik Barthes. Sampel terdiri dari 35 teks promosi yang dipilih secara purposive dari berbagai kawasan di Indonesia, diterbitkan antara tahun 2019–2024. Hasil penelitian mengidentifikasi tujuh strategi linguistik dominan, di antaranya penggunaan leksikon tradisi dan ritual (89,5%), bahasa sensorik dan emotif (77,1%), serta metafora identitas budaya (68,6%). Konstruksi identitas budaya direpresentasikan melalui lima dimensi utama: tradisi dan ritual makan, filosofi dan nilai komunal, identitas geografis lokal, warisan historis leluhur, serta spiritualitas dan kosmologi. Analisis CDA mengungkap gejala standardisasi narasi budaya, komodifikasi identitas, serta ketimpangan representasi antara budaya dominan dan budaya perifer. Analisis semiotik menunjukkan bahwa teks promosi beroperasi secara berlapis, dari level denotatif hingga mitis, yang berpotensi menciptakan stereotifikasi budaya. Penelitian ini merekomendasikan pendekatan representasi yang etis, inklusif, dan berkeadilan ekonomi bagi komunitas pemilik warisan budaya.
Copyrights © 2026