Isu tunjangan DPR tahun 2025 memicu kritik mahasiswa dan mencerminkan pentingnya kesadaran kritis dalam membaca ketidakadilan struktural. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat, bentuk, dan manifestasi kesadaran kritis mahasiswa serta perannya dalam gerakan protes politik. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi pada mahasiswa FKIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Hasil penelitian menunjukkan adanya tiga tingkat kesadaran yaitu, naif, magis, dan kritis-reflektif, dengan mayoritas mahasiswa berada pada tingkat kritis-reflektif. Kesadaran tersebut termanifestasi melalui diskusi, kampanye media sosial, dan rencana aksi protes. Faktor yang memengaruhi meliputi lingkungan kampus, akses informasi politik, dan pengalaman organisasi. Kesimpulannya, mahasiswa memiliki peran strategis sebagai agen perubahan dalam dinamika politik, meskipun masih terdapat hambatan struktural dalam aktualisasi gerakan.
Copyrights © 2026