Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi fenomena sosial remaja era digital dalam novel Mariposa karya Luluk H.F. melalui kajian sastra kontemporer. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan sosiologi sastra Ian Watt yang memandang karya sastra sebagai refleksi kondisi sosial masyarakat. Sumber data penelitian berupa novel Mariposa cetakan ke-12 tahun 2018. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui teknik simak dan catat, sedangkan analisis data dilakukan dengan mengidentifikasi, mengklasifikasi, dan menafsirkan bentuk-bentuk fenomena sosial yang muncul dalam novel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa novel Mariposa merepresentasikan lima fenomena sosial remaja era digital, yaitu: (1) budaya FOMO, stalking, dan validasi sosial di Instagram; (2) gaya pacaran impulsif dan digital dating violence; (3) krisis identitas dan standar kecantikan remaja perempuan akibat media sosial; (4) fenomena personal branding dan gengsi akademik; serta (5) budaya spill dan hilangnya ruang privat remaja. Tokoh Acha dan Iqbal merepresentasikan remaja generasi digital yang mengalami tekanan sosial akibat tuntutan citra diri, validasi virtual, dan budaya komunikasi media sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa novel Mariposa tidak hanya berfungsi sebagai karya hiburan, tetapi juga sebagai kritik sosial terhadap kehidupan remaja modern yang sangat dipengaruhi oleh media digital. Novel ini memperlihatkan bahwa media sosial memiliki dampak positif dalam mempermudah interaksi sosial, tetapi juga dapat menimbulkan kecemasan sosial, krisis identitas, dan tekanan psikologis pada remaja. Oleh karena itu, novel Mariposa relevan dijadikan media refleksi sosial dan edukasi mengenai kehidupan remaja di era digital.
Copyrights © 2026