Artikel ini menelaah festival sound horeg sebagai instrumen sekaligus arena perebutan kuasa dalam kehidupan pedesaan Jawa. Melalui etnografi, penelitian ini melihat bahwa pesta gelegar tersebut melampaui domain hiburan, menempatkannya sebagai jeda simbolik bagi petani kecil untuk keluar dari posisi subordinat dalam struktur kuasa pedesaan. Melalui peran sebagai panitia, operator, atau pemain festival, petani kecil merasakan kembali kemampuan untuk mengatur, memerintah, dan menentukan aturan. Namun, pemulihan kuasa ini bersifat ambivalen. Alih-alih membuka ruang pembebasan, praktik sound horeg justru mereproduksi pola hierarki yang mereka alami sehari-hari: siapa yang memegang mikrofon, menguasai kabel listrik, atau mengatur tata panggung; dengan cepat kembali terjebak dalam logika memungut, meminggirkan, dan mendominasi. Temuan ini juga mengungkap paradoks yang mendasar bahwa festival yang dirayakan sebagai ruang pelarian dari tekanan struktural justru menggambarkan wataknya sebagai kekuasaan yang bising, memabukkan, dan licin untuk ditangkap. Dentuman sound horeg berfungsi sebagai bentuk sabotase halus terhadap dunia yang telah lama membisukan jeritan mereka, tetapi “perlawanan” tersebut terhenti pada euforia tanpa orientasi kelas atau nada perubahan sosial. Sound horeg menjadi katup pelepas frustrasi yang menyalurkan luka struktural ke ranah hiburan, sembari mempertahankan watak dan reproduksi kuasa yang penuh bualan serta bising.
Copyrights © 2025