Seni pertunjukan tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media penyampaian pesan simbolik melalui gerak tari, ekspresi, kostum, musik gamelan, serta narasi yang disampaikan kepada penonton. Dalam konteks pariwisata budaya, komunikasi simbolik menjadi elemen penting untuk menjembatani pemahaman wisatawan terhadap makna budaya yang terkandung dalam pertunjukan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komunikasi simbolik dalam seni pertunjukan Barong and Keris Dance Sahadewa Batubulan, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, yang merupakan salah satu pertunjukan budaya Bali yang memiliki nilai religius, filosofis, dan estetika. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan tujuan memperoleh pemahaman mendalam mengenai bentuk pementasan, pola komunikasi simbolik, serta dampak penggunaan simbol dalam pertunjukan tersebut. Metode pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi dalam pertunjukan berlangsung melalui dua bentuk, yaitu komunikasi verbal terlihat pada dialog tokoh, penjelasan pemandu, dan brosur multibahasa, sedangkan nonverbal lebih dominan melalui simbol agama, gerak tubuh, ekspresi, kostum, serta properti. Pertunjukan ini merepresentasikan pertarungan dharma dan adharma dalam keseimbangan rwa bhineda. Setiap alur mencerminkan nilai pengorbanan, ujian moral, hingga keseimbangan kosmis. Berdasarkan konsep AGIL Talcott Parsons, pertunjukan ini mampu beradaptasi dengan pariwisata tanpa kehilangan identitas, berfungsi sebagai pelestarian budaya sekaligus edukasi dan hiburan, menciptakan integrasi antara pemain dan penonton, serta menjaga keberlanjutan nilai budaya. Dengan demikian, pertunjukan Barong and Keris Dance Sahadewa Batubulan tidak hanya berfungsi sebagai tontonan, tetapi juga sebagai media komunikasi budaya yang efektif dalam mentransmisikan nilai-nilai filosofis, religius, dan sosial kepada wisatawan.
Copyrights © 2026