Penelitian ini bertujuan menganalisis keresahan kolektif dan dinamika opini publik warga Desa Buyut, Cirebon, dalam merespons maraknya pencurian sepeda motor (curanmor) yang menimpa 7–8 korban dalam beberapa pekan. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap delapan korban, observasi lapangan, serta dokumentasi pemberitaan media dan media sosial. Temuan utama menunjukkan lima pola: (1) kejadian berlangsung pada dini hari atau saat acara desa dengan target motor Scoopy; (2) respons polisi bersifat prosedural (“sabar”, “akan diusut”) tanpa tindak lanjut nyata; (3) CCTV desa dalam keadaan mati sehingga menghambat pengumpulan bukti; (4) warga mengembangkan strategi komunikasi alternatif dengan memviralkan kasus ke media (bottom-up agenda setting); (5) terjadi pergeseran norma sosial dari rasa aman menjadi ketakutan kolektif dan sikap sinis. Penelitian ini memperkaya teori spiral of silence dengan menunjukkan fear of retaliation akibat isu “bekingan”, serta menantang asumsi klasik agenda setting bahwa media semata sebagai penentu isu. Implikasi praktisnya, diperlukan mekanisme pelaporan transparan, pemeliharaan CCTV desa, serta pelatihan komunikasi empatik bagi aparat. Penelitian lanjutan disarankan untuk melakukan studi komparatif antar desa dan eksperimen model komunikasi dua arah.
Copyrights © 2026