The increasing divorce rate in Indonesia indicates that many couples still experience difficulties in managing marital conflicts effectively. On the other hand, some couples are able to maintain their marriages for more than 30 years despite facing various life challenges and relationship dynamics. This study aims to explore conflict dynamics, conflict resolution strategies, and the meaning of harmony among couples in long-term marriages. This study employed a qualitative approach with a narrative method involving 8 participants aged 47–66 years. Data were collected through semi-structured in-depth interviews and analyzed using thematic analysis to identify cross-participant patterns, which were subsequently organized into thematic narratives in accordance with the narrative approach. The findings revealed that conflict was perceived as a process of adaptation and emotional learning rather than a threat to the relationship. The most commonly used conflict resolution strategies included compromise, accommodation, and collaboration. Harmony was interpreted as the ability to maintain communication, understand differences, and preserve commitment through religiosity, patience, and family-oriented values. Meningkatnya angka perceraian di Indonesia menunjukkan bahwa banyak pasangan masih mengalami kesulitan dalam mengelola konflik rumah tangga. Di sisi lain, terdapat pasangan yang mampu mempertahankan pernikahan hingga lebih dari 30 tahun meskipun menghadapi berbagai dinamika kehidupan dan hubungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dinamika konflik, strategi resolusi konflik, dan makna keharmonisan pada pasangan dengan usia pernikahan jangka panjang. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode naratif terhadap 8 partisipan berusia 47–66 tahun. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi terstruktur dan dianalisis menggunakan analisis tematik untuk mengidentifikasi pola lintas partisipan, yang kemudian disusun ke dalam narasi tematik sesuai dengan pendekatan naratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik dipandang sebagai proses adaptasi dan pembelajaran emosional, bukan ancaman terhadap hubungan. Strategi penyelesaian konflik yang paling sering digunakan meliputi kompromi, akomodasi, dan kolaborasi. Keharmonisan dimaknai sebagai kemampuan pasangan untuk menjaga komunikasi, memahami perbedaan, serta mempertahankan komitmen melalui nilai religiusitas, kesabaran, dan orientasi terhadap keutuhan keluarga.
Copyrights © 2026