Fenomena pelari kalcer (pelari culture) yang berkembang di Kota Lubuklinggau, Bumi Silampari, merupakan bentuk transformasi sosial masyarakat urban yang menarik untuk dikaji dari sudut pandang sosiologi olahraga dan budaya populer. Jogging, yang awalnya hanya aktivitas fisik untuk menjaga kebugaran tubuh, kini telah berubah menjadi bagian dari gaya hidup dan identitas sosial masyarakat perkotaan. Penelitian ini menelaah bagaimana aktivitas jogging dapat berfungsi sebagai medium pembentukan identitas sosial, penguatan solidaritas masyarakat, serta pemicu dinamika ekonomi kreatif di ruang publik perkotaan. Tujuan penelitian ini ialah menggali makna sosial, nilai-nilai budaya, serta dampak sosial-ekonomi dari aktivitas jogging sebagai gaya hidup urban di Bumi Silampari. Selain itu, penelitian ini juga menyoroti bagaimana pelaku ekonomi kecil (UMKM) dan fotografer lokal ikut terlibat dan memperoleh manfaat dari munculnya budaya pelari kalcer di Lubuklinggau. Artikel ini menelusuri makna sosial kebiasaan jogging melalui wawancara dengan tiga aktor utama: pelari komunitas, pelaku UMKM, dan fotografer lokal. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode wawancara dan observasi, hasil penelitian menunjukkan bahwa jogging tidak hanya berdampak pada kesehatan dan solidaritas sosial, tetapi juga memicu pertumbuhan ekonomi kreatif serta perubahan citra kota melalui keterlibatan berbagai pelaku lokal.
Copyrights © 2026