Doktrin baptisan Roh Kudus dalam teologi Pentakosta klasik sering kali dipahami secara eksklusif sebagai pengalaman spiritual individual yang ditandai dengan glossolalia. Namun, seiring berkembangnya zaman, pemahaman ini kerap memicu polarisasi doktrinal dengan teologi Injili dan mengalami reduksi makna menjadi sekadar fenomena emosional di gereja masa kini. Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi teologi baptisan Roh Kudus dalam gerakan Pentakosta guna menemukan relevansi dan implikasinya bagi gereja abad ke-21. Menggunakan metode kualitatif-teologis dengan pendekatan teologi sistematika dan studi literatur, penelitian ini menganalisis ulang esensi pneumatologi Pentakosta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rekonstruksi teologi baptisan Roh Kudus harus digeser dari paradigma yang egosentris-emosional menuju paradigma pemberdayaan misional (missional empowerment). Baptisan Roh Kudus bukan sekadar tanda keselamatan atau legitimasi spiritualitas, melainkan katalisator etis yang mengintegrasikan karunia roh (charismata) dengan buah roh (fruit of the Spirit). Implikasinya bagi gereja masa kini adalah reposisi model pemuridan yang seimbang, peningkatan aktivitas misi sosial yang kontekstual, dan pemulihan esensi ibadah yang transformatif di tengah masyarakat sekuler.
Copyrights © 2025