Diabetes Melitus tipe 2 merupakan gangguan metabolik kronis yang ditandai dengan hiperglikemia akibat resistensi insulin dan disfungsi sel beta pankreas. Pengelolaan diabetes di lingkungan lembaga pemasyarakatan menghadapi tantangan seperti keterbatasan layanan kesehatan, pola makan tidak terkontrol, dan stres psikososial. Terapi bekam basah (wet cupping) dikenal sebagai terapi komplementer yang dapat meningkatkan mikrosirkulasi, mengurangi stres oksidatif, dan memperbaiki sensitivitas insulin melalui mekanisme detoksifikasi darah. Metode: Penelitian ini menggunakan desain pre-eksperimental dengan one group pretest-posttest, dan melibatkan sampel sebanyak 29 responden yang dipilih melalui purposive sampling. Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed-Rank Test. Hasil: Berdasarkan hasil uji statistik Wilcoxon Signed-Rank didapatkan nilai p=0,001 (p0,05), yang menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan terhadap kadar glukosa darah sewaktu sebelum dan sesudah diberi terapi bekam basah pada penderita DM tipe 2. Kesimpulan: Terdapat pengaruh terapi bekam basah terhadap penurunan kadar glukosa darah pada penderita Diabetes Melitus tipe 2 di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Medan. Meskipun demikian, intervensi ini tidak dapat diposisikan sebagai terapi utama, melainkan lebih tepat digunakan sebagai terapi komplementer dengan tatalaksana farmakologis standar serta modifikasi gaya hidup sesuai rekomendasi medis.Kata kunci: DM tipe 2, kadar glukosa darah sewaktu, terapi bekam basah, Lembaga Pemasyarakatan, terapi komplementer
Copyrights © 2026