Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengembangan Produk Bahan Pangan Ikan Booster Olaha (PIBO) Pada Kelompok Resiko Tinggi Antenatal Dan Peningkatan Ekonomi Rumah Tangga Terdampak Banjir Di Desa Patumbak Tahun 2026 Bahtera Bindavid Purba; Friska Ernita Sitorus; Hendra Sutysna
BEST Journal (Biology Education, Sains and Technology) Vol 9, No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/best.v9i1.13204

Abstract

Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara Tahun 2025, mengalami bencana banjir yang menyebabkan kerusakan infrastruktur dan lahan pertanian. Kondisi ini berdapak luas terhadap penurunan pendapatan keluarga dan penurunan berat badan pada kelompok rentan seperti ibu hamil, ibuk menyusui, bayi, balita dan anak-anak usia 5-10 tahun. Sebagai solusi strategis, Program Mahasiswa Berdampak dari Institut Kesehatan Deli Husada Deli Tua berpartisipasi dalam intervensi penanggulangan dampak bencana banjir  dengan program pemberian Produk Ikan Booster Olahan (PIBO) yang bertujuan untuk meningkatkan status gizi pada kelompok sasaran Mitra Sehat dan membangun kemandirian ekonomi pada kelompok Mitra Ekonomi Sehat. Metode yang digunakan dalam program ini adalah inovasi produk PIBO berbahan baku belut sebagai sumber protein utama dan daging sapi yang dikemas dalam bentuk tahu isi dengan menggunakan teknologi penggiling daging GETRA TR8SH-MSA. PIBO diproduksi oleh 25 kepala keluarga Mitra Ekonomi Sehat dan didistribusikan kepada 25 kepala keluarga Mitra Sehat (100 orang sasaran) yang terdampak banjir selama 20 hari kerja. Program mahasiswa berdampak ini telah mendistribusikan produk PIBO kepada 100 orang sasaran Mitra Sehat sebanyak 2000 kemasan (1 kemasan 4 PIBO/orang sasaran) atau 400 PIBO per hari. Hasil pengukuran berat badan pada akhir program menunjukan peningkatan berat badan pada ibu hamil trimester 2 sebesar  rata-rata 1,7 kg (normal: 1,2 kg) , ibu menyusui rata-rata 0,65 kg (normal: tidak ada kenaikan), balita rata-rata 328 gram (normal: 130 gram), dan anak usia 5-10 tahun rata-rata 425 gram (normal: 150 gram). Pada kelompok Mitra Ekonomi Sehat telah diberikan teknologi untuk memproduksi PIBO, pelatihan produksi PIBO selama 2 hari, diskusi mendalam tentang rasa, disain, kemasan, dan distribusi PIBO di grosir sayur sebanyak 2 outlet dengan penjualan rata-rata 15 pick / hari (masa puasa)
Pengaruh Bekam Basah Terhadap Kadar Glukosa Darah Sewaktu Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 Di Lapas Kelas I Medan Salsabila Putri Ramadan Siregar; Desi Isnayanti; Hendra Sutysna
ANATOMICA MEDICAL JOURNAL | AMJ Vol 9, No 2 (2026)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/amj.v9i2.29066

Abstract

Diabetes Melitus tipe 2 merupakan gangguan metabolik kronis yang ditandai dengan hiperglikemia akibat resistensi insulin dan disfungsi sel beta pankreas. Pengelolaan diabetes di lingkungan lembaga pemasyarakatan menghadapi tantangan seperti keterbatasan layanan kesehatan, pola makan tidak terkontrol, dan stres psikososial. Terapi bekam basah (wet cupping) dikenal sebagai terapi komplementer yang dapat meningkatkan mikrosirkulasi, mengurangi stres oksidatif, dan memperbaiki sensitivitas insulin melalui mekanisme detoksifikasi darah. Metode: Penelitian ini menggunakan desain pre-eksperimental dengan one group pretest-posttest, dan melibatkan sampel sebanyak 29 responden yang dipilih melalui purposive sampling. Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed-Rank Test. Hasil: Berdasarkan hasil uji statistik Wilcoxon Signed-Rank didapatkan nilai p=0,001 (p0,05), yang menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan terhadap kadar glukosa darah sewaktu sebelum dan sesudah diberi terapi bekam basah pada penderita DM tipe 2. Kesimpulan: Terdapat pengaruh terapi bekam basah terhadap penurunan kadar glukosa darah pada penderita Diabetes Melitus tipe 2 di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Medan. Meskipun demikian, intervensi ini tidak dapat diposisikan sebagai terapi utama, melainkan lebih tepat digunakan sebagai terapi komplementer dengan tatalaksana farmakologis standar serta modifikasi gaya hidup sesuai rekomendasi medis.Kata kunci: DM tipe 2, kadar glukosa darah sewaktu, terapi bekam basah, Lembaga Pemasyarakatan, terapi komplementer