Penelitian ini bertujuan mengkaji proses pemerolehan bahasa isyarat sebagai bahasa pertama pada anak tunarungu, serta mengidentifikasi faktor-faktor pendukung, hambatan, dan strategi pembelajaran yang paling efektif dalam mendukung pemerolehan bahasa tersebut. Latar belakang penelitian didasarkan pada data World Health Organization (2023) yang mencatat lebih dari 430 juta orang di dunia hidup dengan gangguan pendengaran signifikan, dengan lebih dari 800.000 di antaranya berada di Indonesia (BPS, 2020). Kondisi ini menempatkan isu pemerolehan bahasa isyarat sejak dini sebagai persoalan yang mendesak secara pendidikan dan kebijakan. Penelitian menggunakan pendekatan narrative literature review dengan kerangka thematic analysis (Braun & Clarke, 2006). Sumber data diperoleh melalui penelusuran pada enam basis data akademik—Google Scholar, ERIC, DOAJ, Garuda, SINTA, dan repositori institusional—dengan kriteria inklusi yang eksplisit. Dari 78 artikel yang ditemukan, sebanyak 22 sumber akhirnya dikaji secara mendalam. Hasil kajian menghasilkan lima tema utama: (1) proses pemerolehan, (2) faktor pendukung, (3) kendala dan tantangan, (4) strategi pembelajaran efektif, dan (5) implikasi perkembangan. Temuan menunjukkan bahwa pemerolehan bahasa isyarat berlangsung secara alami jika paparan terjadi sejak usia dini secara konsisten, dengan sinergi antara keterlibatan keluarga dan dukungan institusi sekolah sebagai faktor penentu. Hambatan terbesar meliputi keterlambatan paparan di atas periode kritis, keterbatasan tenaga pendidik, dan stigma sosial. Strategi pembelajaran multimodal yang melibatkan keluarga terbukti paling efektif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa intervensi bahasa isyarat sejak dini adalah kebutuhan mendesak yang memerlukan regulasi dan dukungan sistemik, bukan sekadar pilihan pedagogis.
Copyrights © 2026