Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PEMEROLEHAN BAHASA ISYARAT SEBAGAI BAHASA PERTAMA PADA ANAK TUNARUNGU: ACQUISITION OF SIGN LANGUAGE AS A FIRST LANGUAGE IN DEAF CHILDREN Nurrahma
AUFKLARUNG: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra Indonesia, dan Pembelajarannya Vol. 5 No. 4 (2026): APRIL-MEI TAHUN 2026
Publisher : Education and Talent Development Center of Indonesia (ETDC Indonesia).

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51574/aufklarung.v5i4.5225

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengkaji proses pemerolehan bahasa isyarat sebagai bahasa pertama pada anak tunarungu, serta mengidentifikasi faktor-faktor pendukung, hambatan, dan strategi pembelajaran yang paling efektif dalam mendukung pemerolehan bahasa tersebut. Latar belakang penelitian didasarkan pada data World Health Organization (2023) yang mencatat lebih dari 430 juta orang di dunia hidup dengan gangguan pendengaran signifikan, dengan lebih dari 800.000 di antaranya berada di Indonesia (BPS, 2020). Kondisi ini menempatkan isu pemerolehan bahasa isyarat sejak dini sebagai persoalan yang mendesak secara pendidikan dan kebijakan. Penelitian menggunakan pendekatan narrative literature review dengan kerangka thematic analysis (Braun & Clarke, 2006). Sumber data diperoleh melalui penelusuran pada enam basis data akademik—Google Scholar, ERIC, DOAJ, Garuda, SINTA, dan repositori institusional—dengan kriteria inklusi yang eksplisit. Dari 78 artikel yang ditemukan, sebanyak 22 sumber akhirnya dikaji secara mendalam. Hasil kajian menghasilkan lima tema utama: (1) proses pemerolehan, (2) faktor pendukung, (3) kendala dan tantangan, (4) strategi pembelajaran efektif, dan (5) implikasi perkembangan. Temuan menunjukkan bahwa pemerolehan bahasa isyarat berlangsung secara alami jika paparan terjadi sejak usia dini secara konsisten, dengan sinergi antara keterlibatan keluarga dan dukungan institusi sekolah sebagai faktor penentu. Hambatan terbesar meliputi keterlambatan paparan di atas periode kritis, keterbatasan tenaga pendidik, dan stigma sosial. Strategi pembelajaran multimodal yang melibatkan keluarga terbukti paling efektif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa intervensi bahasa isyarat sejak dini adalah kebutuhan mendesak yang memerlukan regulasi dan dukungan sistemik, bukan sekadar pilihan pedagogis.
P THE ROLE OF INFLUENCERS IN THE SPREAD OF NEW VOCABULARY Laeli Qadrianti; Muh. Syukri Gaffar; Nurrahma; A. Anna Fauziah; Putri Amalia; Al Mutazam
Lingue : Jurnal Bahasa, Budaya, dan Sastra Vol. 7 No. 1 (2025): Language and Literature Studies
Publisher : LP2M UIN Abdul Muthalib Sangadji Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33477/lingue.v7i1.9490

Abstract

The purpose of this study is to examine the role of influencers in the dissemination of new vocabulary through social media. This research employs a qualitative research method involving social media content analysis and literature review. The study focuses on the mechanisms of new vocabulary dissemination and its impact on social communication and the development of the Indonesian language. The findings reveal that influencers utilize social media platforms such as Instagram, TikTok, and YouTube to create engaging and relevant content. Creative content in the form of short videos, memes, or interactive stories is often used to introduce new terms. Examples of vocabulary such as "Santuy," "Asyiap," and "Mager" have gained popularity through these platforms. Social media algorithms accelerate the spread of terms by increasing the visibility of content with high interaction. Additionally, direct interactions with followers through live broadcasts or Q&A sessions strengthen the emotional connection between influencers and their audience, facilitating the adoption of new vocabulary. The impact of this phenomenon is the enrichment of colloquial language, the creation of group identity, and the strengthening of relationships within digital communities. This phenomenon has also changed perceptions of the formality of the Indonesian language, with an increasing use of non-standard terms in various contexts, including in marketing. Some companies have even started adopting new vocabulary in their branding strategies. The contribution of this study can serve as a guide for educators and policymakers to understand the dynamics of language development among the younger generation, as well as to design language learning strategies that are more relevant to the language evolving on social media.