Penelitian ini menganalisis Madrasah Nizamiyyah sebagai fenomena politisasi pendidikan Islam pada abad ke-11 melalui pendekatan historis-kritis. Madrasah yang didirikan oleh Nizam al-Mulk pada tahun 1066 menandai transformasi fundamental dari sistem pendidikan Islam yang spontan dan egaliter menuju model state-led education yang terstruktur di bawah kontrol negara. Menggunakan metode penelitian kepustakaan dengan analisis isi historis, penelitian ini mengungkapkan bahwa pendirian Madrasah Nizamiyyah dimotivasi oleh kepentingan politik Dinasti Seljuk untuk mengkonsolidasasi kekuasaan dan memerangi pengaruh Syiah melalui indoktrinasi ortodoksi Sunni. Temuan penelitian menunjukkan bahwa institusionalisasi pendidikan membawa paradoks: kemajuan organisasional dalam hal standardisasi, pembiayaan, dan aksesibilitas, namun disertai kemunduran intelektual akibat pembatasan kebebasan akademik dan marginalisasi ilmu-ilmu sekuler. Mekanisme kontrol negara diimplementasikan melalui penunjukan profesor berdasarkan loyalitas ideologis, kurikulum yang menekankan yurisprudensi Syafi'i dan teologi Asy'ari, serta sistem beasiswa yang menciptakan ketergantungan ekonomi. Dampak jangka panjangnya adalah stagnasi intelektual yang berkontribusi pada kemunduran peradaban Islam, sementara universitas Barat mengadopsi warisan keilmuan Islam. Penelitian ini menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara dukungan negara dan otonomi akademik untuk mencegah instrumentalisasi pendidikan bagi kepentingan politik partisan
Copyrights © 2026