Penelitian ini mengeksplorasi penerapan metode socratic questioning dalam pembelajaran SKI di MAN 2 Banyumas, serta dampak terhadap pembentukan nalar kritis siswa, dengan fokus pada analisis interaksi kelas dan transformasi otoritas pengetahuan. Studi kualitatif lapangan dilakukan di MAN 2 Banyumas dengan melibatkan guru SKI, siswa kelas X, wakil kepala sekolah bidang kurikuum, dan anggota rohis(rohani islam) sebagai informan. Pengumpulan data menggunakan observasi partisipatif terhadap proses pembelajaran SKI, wawancara semi terstruktur dengan guru dan siswa, serta analisis dokumen modul ajar, dan hasil diskusi siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode Socratic Questioning—melalui enam kategori pertanyaan (kalrifikasi, asumsi, bukti, prespektif, implikasi, dan meta-refleksi)—mendorong siswa mengembangkan kemampuan analitis, evaluatif, dan argumentatif faham merespon isu-isu sosial dan keagamaan. Temuan kunci penelitian ini adalah bahwa efektivitas Socratic Questioning tidak hanya terletak pada pertanyaannya, melainkan pada kemampuan untuk mentransformasikan otoritas pengetahuan guru—dari otoritas hierarkis berdasarkan posisi menjadi otoritas dialogis berdasarkan kualitas argumentasi. Transformasi otoritas ini menciptakan ruang kelas yang lebih demokratis, yaitu ditandai dengan inisiatif siswa untuk mengajukan pertanyaan, keberanian mengkritisi argumen teman serta luasnya referensi yang dapat diambil oleh siswa dalam mencari sumber belajar lain.
Copyrights © 2026