Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kebijakan moneter terhadap stabilitas nilai tukar di negara berkembang. Nilai tukar yang stabil menjadi salah satu indikator utama kesehatan ekonomi, karena fluktuasi yang tinggi dapat menimbulkan ketidakpastian bagi investasi, perdagangan, dan pertumbuhan ekonomi. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode regresi linier berganda untuk menguji pengaruh variabel kebijakan moneter, termasuk suku bunga, cadangan devisa, dan jumlah uang beredar, terhadap volatilitas nilai tukar. Data panel dikumpulkan dari 10 negara berkembang selama periode 2015–2024. Hasil analisis menunjukkan bahwa perubahan suku bunga memiliki pengaruh negatif signifikan terhadap volatilitas nilai tukar, sedangkan cadangan devisa menunjukkan efek stabilisasi yang kuat. Selain itu, peningkatan jumlah uang beredar cenderung meningkatkan volatilitas nilai tukar jika tidak diimbangi oleh kebijakan moneter kontraktif. Temuan ini menegaskan pentingnya koordinasi kebijakan moneter yang hati-hati untuk menjaga stabilitas nilai tukar, sekaligus memberikan implikasi bagi pembuat kebijakan dalam merancang strategi makroekonomi yang efektif. Penelitian ini juga menekankan perlunya pendekatan yang bersifat proaktif dan responsif terhadap kondisi eksternal, termasuk arus modal global dan tekanan inflasi.
Copyrights © 2026