Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi pemahaman kepemimpinan Kristiani dengan menempatkan Etika Kerajaan Allah bukan sekadar sebagai norma perilaku, melainkan sebagai fondasi ontologis. Masalah utama yang diangkat adalah terjadinya krisis integritas dan pergeseran model kepemimpinan gerejawi yang cenderung mengadopsi nilai-nilai korporasi sekuler tanpa penyaringan teologis yang memadai. Dengan menggunakan metodologi kualitatif deskriptif melalui studi pustaka, penelitian ini menganalisis prinsip-prinsip biblika, kepemimpinan profetik, dan model kepemimpinan pelayan (servant leadership). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan yang berakar pada ontologi Kerajaan Allah menuntut transformasi esensial dalam diri pemimpin, di mana karakter dan keberadaan (being) mendahului tindakan (doing). Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi dimensi profetik dan etika eskatologis sebagai jawaban atas tantangan moralitas kontemporer. Penemuan ini berimplikasi pada perlunya reorientasi kurikulum pendidikan teologi dan praktik kepemimpinan di organisasi gereja yang lebih menekankan pada integritas spiritual daripada sekadar efisiensi manajerial.
Copyrights © 2026