Tradisi Tayubiyah di Dusun Sudo dan Bungkuk, Desa Wangunrejo, Kabupaten Pati, merupakan bagian dari tradisi sedekah bumi yang masih dilestarikan masyarakat setempat. Tradisi ini tidak hanya memuat praktik budaya, tetapi juga menghadirkan berbagai istilah khas yang merefleksikan pengetahuan dan nilai budaya masyarakat pendukungnya. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan makna serta fungsi penggunaan istilah-istilah dalam tradisi Tayubiyah. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan semantik. Data berupa kata dan frasa yang digunakan dalam pelaksanaan tradisi Tayubiyah, yang diperoleh melalui wawancara mendalam dan dokumentasi. Analisis data dilakukan menggunakan teori segitiga makna Ogden dan Richards untuk mengkaji hubungan simbol, konsep, dan referensi, serta teori fungsional Kaplan dan Manners untuk mengungkap fungsi penggunaan istilah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa istilah-istilah dalam tradisi Tayubiyah, seperti leledha, modin, nayub, iwak bandeng, dhekem pitik, gedhang setangkep, kembang setaman, kembang gadhing sejodoh, dan sampur, memiliki keterkaitan yang erat antara bentuk linguistik, konsep budaya, dan referensi nyata dalam praktik tradisi. Selain mengandung makna leksikal, istilah-istilah tersebut juga merepresentasikan nilai-nilai sosial, religius, dan budaya masyarakat setempat. Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan istilah dalam tradisi Tayubiyah berfungsi sebagai media pewarisan pengetahuan budaya sekaligus memperkuat identitas dan kearifan lokal masyarakat Wangunrejo.
Copyrights © 2026