Kajian hadis di Nusantara sering kali mengabaikan peran strategis ulama lokal yang memegang sanad keilmuan internasional. Pemilihan topik atas tokoh Tuan Abdul Ba’its Nasution didasarkan pada signifikansi kiprahnya di Mandailing Natal; sebuah anomali intelektual yang berhasil mensintesiskan sanad global dari Universitas Ummul Qura Makkah dengan kearifan tradisi lokal Nusantara. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui pendekatan studi tokoh dan analisis isi (content analysis) terhadap 34 naskah karyanya, dipadukan dengan telaah atas metode pengabdian sosial dan pengajarannya di masyarakat. Hasil kajian menunjukkan bahwa pengabdian keilmuan Tuan Ba’its diimplementasikan melalui dua strategi komprehensif. Pertama, pendekatan kultural di majelis taklim menggunakan literatur ringkas (Tulisan) guna mewujudkan demokratisasi pemahaman hadis harian bagi masyarakat awam. Kedua, pendekatan institusional di pesantren menggunakan naskah tematis yang mendalam (Shohifah) sebagai instrumen pendidikan sekaligus kritik sosial kontemporer yang responsif terhadap patologi masyarakat (seperti korupsi dan money politics). Lebih jauh, melalui posisinya sebagai Rais Syuriyah NU dan Penasihat Bupati, Tuan Ba'its sukses mentransformasikan teks keagamaan menjadi rekayasa sosial dan kebijakan birokrasi.
Copyrights © 2026