Keberlanjutan menjadi isu penting dalam penyelenggaraan festival, baik di kota besar maupun kota kecil, karena festival berfungsi sebagai ruang budaya sekaligus destinasi pariwisata yang sering dihadapkan pada paradoks antara idealisme dan kepentingan komersial. Penelitian ini membandingkan praktik sustainable festival dengan studi kasus Djakarta Warehouse Project (DWP) di Jakarta sebagai representasi kota besar dan Jember Fashion Carnaval (JFC) di Jember sebagai representasi kota kecil. Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR) terhadap artikel nasional dan internasional periode 2009–2025, melalui tahap identifikasi, penyaringan, kelayakan, dan inklusi. Analisis tematik dilakukan dengan mengelompokkan temuan ke dalam dimensi ekonomi, sosial-budaya, dan lingkungan. Hasil kajian menunjukkan bahwa DWP lebih bersifat industry-driven dengan dukungan sponsor dan jangkauan internasional, namun menghadapi kritik terkait greenwashing serta dampak lingkungan, sementara JFC lebih community-driven dengan fokus pada pelestarian budaya, pemberdayaan UMKM, dan keterlibatan masyarakat meski terkendala dana dan infrastruktur. Kesimpulannya, praktik keberlanjutan festival di kota besar dan kota kecil memiliki tantangan serta peluang berbeda, dan kombinasi pendekatan industry-driven dan community-driven berpotensi menjadi model ideal pengembangan festival berkelanjutan di Indonesia.
Copyrights © 2026