Pariwisata massal di Indonesia membutuhkan alternatif berkelanjutan seperti desa budaya pedesaan. Desa Wisata Sangurejo di Sleman memiliki aset alam, budaya, dan lokal yang unik, tetapi menghadapi visibilitas digital yang rendah, penggunaan media sosial dan e-commerce yang tidak memadai, dan keterampilan digital yang terbatas di antara pemangku kepentingan lokal. Program pengabdian masyarakat ini mengatasi kesenjangan tersebut melalui pendekatan tiga fase yang terstruktur: persiapan, implementasi, dan evaluasi. Kegiatan meliputi pelatihan langsung tentang Google Business Profile, pembuatan konten media sosial, dan WhatsApp Business, yang disampaikan melalui pendampingan partisipatif. Indikator keberhasilan utama yang diukur melalui tes pra/pasca dan analitik digital menunjukkan peningkatan literasi digital sebesar 62%, peningkatan pengikut media sosial sebesar 150%, peningkatan keterlibatan sebesar 210%, dan 34 permintaan pemesanan online. Selain itu, pengelola pariwisata lokal beralih dari promotor pasif menjadi pembuat konten digital dan pengelola pemesanan yang aktif. Model partisipatif berbasis lapangan ini secara efektif memperkuat kapasitas pemasaran digital destinasi wisata pedesaan dan menawarkan kerangka kerja yang dapat direplikasi untuk konteks serupa di Indonesia.
Copyrights © 2026