Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) menjadi salah satu program utama pemerintah Indonesia dalam rangka memulihkan ekosistem hutan yang mengalami kerusakan. Meskipun demikian, capaian keberhasilan program tersebut belum sepenuhnya memenuhi harapan. Penelitian ini mengkaji keterkaitan antara kondisi sosial dan kelembagaan masyarakat dengan tingkat keberhasilan pelaksanaan RHL di Desa Momala, Kabupaten Gorontalo. Pendekatan campuran (mixed method) diterapkan melalui kuesioner terstruktur berskala Likert 4 poin kepada 10 responden pilihan serta kuesioner Likert 5 poin kepada 39 responden yang mencakup petani peserta, aparat desa, dan pendamping lapangan. Data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara mendalam. Temuan menunjukkan bahwa rerata skor aspek sosial mencapai 2,61 (Cukup Baik), di mana dimensi pendampingan dan monitoring memperoleh skor paling rendah (2,38; Kurang Baik), diikuti norma dan praktik sosial (2,27; Kurang Baik). Pada aspek kelembagaan, fungsi kelompok tani memiliki indeks terendah (62%; Sedang), disusul monitoring program (64%; Sedang). Temuan penelitian ini menegaskan bahwa aspek sosial dan kelembagaan di Desa Momala menjadi tantangan utama dalam pencapaian keberhasilan RHL, terutama karena belum optimalnya pendampingan pascatanam, terbatasnya peran kelompok tani, masih berlangsungnya praktik pelepasan ternak bebas dan pembakaran lahan, serta belum terbentuknya rasa memiliki yang mengakar terhadap tanaman rehabilitasi.
Copyrights © 2026