Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji interpretasi netizen terhadap makna simbolis dekke simudur-mudur dalam tradisi Batak Toba melalui media sosial. Di era digital, simbol-simbol budaya lokal kini menyebar dan dimaknai ulang oleh audiens yang beragam di ruang siber. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif serta perspektif studi resepsi. Data utama berupa komentar dan teks interpretasi netizen dikumpulkan dari platform media sosial (TikTok, Instagram, Twitter/X, dan Facebook), sementara data pendukung diperoleh dari buku, jurnal, dan artikel ilmiah. Analisis data dilakukan melalui tiga tahap: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga pola utama dalam resepsi netizen: (1) pemaknaan simbolis-filosofis yang memahami dekke sebagai simbol harmoni dan kebersamaan; (2) pemaknaan fungsional-kuliner yang lebih menonjolkan dimensi gastronomi; dan (3) pemaknaan kritis-reflektif yang mempertanyakan relevansi tradisi di era modern. Variasi pemaknaan ini mencerminkan kondisi fragmentasi budaya di ruang digital. Di samping itu, interpretasi netizen juga mengandung nilai-nilai pendidikan karakter, khususnya cinta tanah air, menghargai prestasi leluhur, dan kepedulian sosial. Penelitian ini memberikan kontribusi pada kajian tradisi lisan, linguistik budaya, dan literasi digital.
Copyrights © 2026