Pola administrasi kesiswaan konvensional berbasis kertas di sekolah sering kali memicu keterlambatan birokrasi, risiko kerusakan dokumen, dan rendahnya akurasi data. Kondisi ini menuntut adanya reorientasi tata kelola kesiswaan guna menyongsong Era Society 5.0. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis transformasi instrumen administrasi peserta didik dari model manual menuju sistem elektronik, serta memetakan peran strategis guru dalam mengoptimalkan ekosistem digital tersebut. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan (literature review) dengan pendekatan komparatif analitis terhadap artikel ilmiah, regulasi, dan buku teks manajemen pendidikan yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa digitalisasi administrasi kesiswaan terbukti mampu mengotomatisasikan siklus operasional sekolah secara runtut, mulai dari sistem penerimaan siswa baru, pemantauan kehadiran berbasis biometrik, validasi mutasi satu pintu, hingga penelusuran alumni. Integrasi instrumen elektronik seperti Sistem Informasi Manajemen Sekolah (SIMS) dan Learning Management System (LMS) berhasil memangkas manipulasi data serta mereduksi kesalahan manusia secara signifikan. Di sisi lain, keberhasilan transisi digital ini sangat bertumpu pada kesiapan infrastruktur siber dan kompetensi guru selaku motor penggerak (brainware). Ketika sistem elektronik berjalan matang, guru terbebas dari beban dokumen manual yang menyita waktu sehingga dapat mengalihkan fokus profesionalnya secara penuh untuk meningkatkan mutu pembelajaran dan bimbingan karakter di kelas.
Copyrights © 2026