Transformasi besar-besaran praktik keagamaan dari format analog ke digital telah memunculkan diskursus teologis yang signifikan mengenai pengalaman iman kontemporer. Perkembangan ini menantang pemahaman tradisional terkait kehadiran Kristus yang selama ini diasosiasikan dengan interaksi komunal fisik. Penelitian ini mengadopsi metode penelitian kepustakaan (library research) melalui pengumpulan data dan analisis sistematis terhadap literatur yang relevan dalam lensa Pneumatologi dan Eklesiologi serta penerapan teori Kesadaran Sosial. Temuan utama mengindikasikan bahwa ruang digital mampu memberikan aspek afektif dan kohesif bagi jemaat; serta pentingnya ruang digital berfungsi sebagai pendukung, bukan pengalih, dalam merealisasikan kehadiran Kristus. Kehadiran Kristus juga dapat dialami melalui layanan konseling dan pelayanan pelepasan berbasis digital dalam konteks gereja sebagai tubuh Kristus.
Copyrights © 2026