Kejadian campak di Provinsi Nusa Tenggara Timur masih menunjukkan pola yang tidak stabil dan berpotensi menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB), meskipun program imunisasi telah dilaksanakan. Selain itu, ketimpangan cakupan imunisasi, keterbatasan akses layanan kesehatan, serta kemungkinan kasus yang tidak tercatat dengan baik selama pandemi COVID-19 menyebabkan gambaran kasus belum sepenuhnya mencerminkan kondisi sebenarnya. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan riwayat kejadian campak di Provinsi Nusa Tenggara Timur selama periode 2015–2024 serta menganalisis tren, faktor risiko, dan upaya pengendaliannya. Metode yang digunakan adalah literature review dengan pendekatan historis berdasarkan data Profil Kesehatan dan literatur ilmiah yang relevan. Hasil menunjukkan bahwa kasus campak memiliki pola fluktuatif dengan indikasi KLB pada tahun 2016, 2017, 2022 dan 2023. Kelompok usia anak dan remaja dengan imunisasi tidak lengkap merupakan kelompok paling berisiko. Faktor lain seperti kondisi gizi, lingkungan, akses layanan kesehatan, serta tingkat pendidikan dan ekonomi keluarga turut berkontribusi terhadap kejadian campak. Diperlukan peningkatan cakupan imunisasi, pemerataan layanan kesehatan, serta penguatan pemantauan kasus untuk mencegah KLB di masa mendatang.
Copyrights © 2026