Krisis ekologis global menuntut transformasi pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) untuk membangun kesadaran ekologis siswa yang transformatif, bukan sekadar literasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tingkat kesadaran ekologis siswa, problematika pembelajaran IPS berbasis sosiologi, dan proses konstruksi kesadaran ekologis siswa. Penelitian menggunakan metode campuran dengan desain concurrent embedded design (kualitatif utama, kuantitatif pendukung) di SMAN 12 Garut. Subjek penelitian terdiri dari 12 siswa kelas XI IPS dan 2 guru IPS yang dipilih secara purposif. Data dikumpulkan melalui angket, observasi partisipan pasif, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Analisis data kuantitatif menggunakan statistik deskriptif, sedangkan data kualitatif dianalisis dengan model tematik interaktif Braun & Clarke dan analisis isi kualitatif Mayring. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara deklaratif (angket), kesadaran ekologis siswa sudah sangat tinggi (rata-rata 87,50), namun secara praksis (observasi) terjadi value-action gap yang signifikan, dimana 83,3% siswa tidak pernah memilah sampah dan penggunaan plastik sekali pakai masih dominan. Terdapat lima klaster problematika yang saling memperkuat: pedagogis (RPP tidak integratif, metode ceramah 80%), sumber belajar (tidak kontekstual), respons siswa (pasif), kebijakan sekolah (tidak ada aturan plastik), dan konteks lokal (kebiasaan membakar sampah). Proses konstruksi kesadaran ekologis berjalan dangkal dan terhambat: eksternalisasi tidak otentik, objektivasi gagal total, dan internalisasi hanya terjadi pada 2 dari 12 siswa. Tanpa dukungan sistemik sekolah (institutional scaffolding), pembelajaran IPS tidak mampu menginternalisasi nilai ekologis secara efektif.
Copyrights © 2026