Mahasiswi yang menjalankan peran ganda sebagai ibu bekerja tidak hanya menghadapi tekanan akademik dan tuntutan pekerjaan, tetapi juga beban emosional yang muncul dari tanggung jawab yang harus dijalankan secara bersamaan. Kondisi tersebut seringkali memunculkan kelelahan fisik, konflik peran, serta perasaan tertekan dan bersalah ketika mereka belum mampu menjalankan seluruh perannya secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran konseling individu berbasis feminis dalam penguatan diri mahasiswi dengan peran ganda sebagai ibu bekerja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan penerapan konseling individu berbasis feminis sebagai bagian dari proses penggalian data, dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Penelitian ini melibatkan tiga mahasiswi Fakultas Tarbiyah dan Keguruan pada salah satu perguruan tinggi di Kota Tangerang yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum konseling, semua partisipan mengalami kelelahan emosional, konflik peran, tekanan sosial, dan kecenderungan untuk memendam perasaan mereka. Proses konseling feminis yang dilakukan dalam dua sesi per partisipan menggunakan tiga mekanisme utama: membingkai ulang pengalaman negatif, memvalidasi perasaan partisipan, dan memperkuat identitas pribadi mereka. Setelah sesi konseling, partisipan menunjukkan peningkatan dalam tiga dimensi penguatan diri: intrapersonal (peningkatan kesadaran diri dan kepercayaan diri), interaksional (pemahaman kritis tentang peran gender dan dinamika hubungan sosial), dan perilaku (peningkatan kapasitas untuk pengambilan keputusan dan negosiasi peran yang lebih sehat). Penelitian ini menunjukkan bahwa konseling individual berbasis feminis merupakan pendekatan yang efektif dalam mendukung kesejahteraan psikologis dan penguatan diri mahasiswi yang menjalani peran ganda sebagai ibu bekerja.
Copyrights © 2026