Pemantauan salinitas di kawasan konservasi Sungai Wain, Balikpapan, memerlukan saluran komunikasi data yang tetap hidup walau perangkat dipasang jauh dari infrastruktur jaringan tetap. Persoalan muncul saat data logger kami sambungkan lewat modem 4G LTE: operator seluler di Indonesia umumnya menerapkan Carrier Grade NAT (CGNAT) sehingga Raspberry Pi di lapangan tidak memperoleh alamat IP publik. Akibatnya port forwarding tidak bisa diandalkan dan akses balik dari pusat kendali jadi terhambat. Penelitian ini merancang dan menguji solusi reverse SSH tunnel berbasis autossh yang dijaga oleh systemd, kemudian mengukur perilaku sistem di lab dengan SIM komersial yang berada di balik CGNAT. Selama 24 jam pengujian, sistem berhasil mengirim 1.440 titik data tanpa kehilangan paket, uptime tunnel tercatat 99,5%, dan rata-rata waktu pemulihan setelah pemutusan jaringan berada di kisaran 6 sampai 9 detik. Akses SSH balik (port 2222 di server pusat) terbukti stabil dengan latensi rata-rata 150 ms. Konsumsi daya komputasi tetap rendah, ~5% CPU saat idle dan ~15% saat transfer file. Hasil tersebut memperlihatkan bahwa pendekatan tunneling berbasis perangkat lunak bebas terbukti layak menjadi pengganti VPN komersial atau paket IP publik statis untuk proyek monitoring lingkungan skala menengah-kecil di Indonesia.
Copyrights © 2026