Pola asuh otoriter yang menuntut kepatuhan mutlak di rumah dapat memicu respons adaptasi negatif siswa di sekolah, seperti menarik diri dan menekan ekspresi emosi (suppression). Penelitian kualitatif deskriptif ini bertujuan mendeskripsikan dinamika proses dan hasil penerapan konseling kelompok melalui teknik self-regulation. Kebaruan penelitian terletak pada integrasi teknik regulasi diri dengan media visual-kinestetik "Toples Perasaanku" sebagai instrumen proyeksi emosi non-verbal untuk menjembatani hambatan verbal anak. Melalui teknik purposive sampling, lima siswa kelas V MIS Mathla’ul Huda Kampung Bojong ditetapkan sebagai subjek penelitian, serta guru kelas sebagai informan pendukung. Data dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intervensi sebanyak empat pertemuan berhasil memulihkan kemampuan ekspresi emosi anak. Aktivitas mewarnai pada media "Toples Perasaanku" mampu memproyeksikan beban emosi terpendam secara konkret. Di akhir sesi, mayoritas subjek memproyeksikan emosi adaptif melalui pilihan warna cerah, sedangkan subjek yang masih berproses mengawali proyeksi lewat warna gelap sebagai bentuk kejujuran emosi terpendam. Seluruh subjek pada akhirnya mampu merefleksikan penguatan diri melalui penulisan afirmasi positif. Penelitian ini berimplikasi praktis bagi guru BK dan guru kelas dalam mengembangkan intervensi konseling kelompok yang kreatif, menarik, serta sesuai dengan karakteristik anak sekolah dasar.
Copyrights © 2026